Banner Website Responsif

Penajam Paser Utara

Jamaluddin Desak Perbaikan Dermaga Tanjung Jumlai dengan Konstruksi Beton

PENAJAM — Anggota DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Jamaluddin mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap dermaga Tanjung Jumlai yang kini kondisinya semakin memprihatinkan.

Ia menilai dermaga tersebut memiliki peran penting sebagai penunjang sektor wisata dan ruang publik masyarakat.

Dalam penjelasannya, Jamaluddin mengkritisi pembangunan sebelumnya yang menggunakan tiang ulin. Diungkapkannya, bahwa saat itu ia sebenarnya telah menolak penggunaan material kayu ulin karena dinilai tidak akan bertahan lama di area pesisir.

“Kalaupun pemerintah ada niat untuk membangun sistem dermaga, seyogianya itu tiangnya adalah cor beton. Kalau kemarin kayu ulin, dan dulu sebenarnya jujur saya di dalam juga dan di Komisi II saya tolak, cuma kan tidak bisa. Persoalannya itu dari provinsi, barang sudah diproses mau dikerjakan, kita tidak bisa tolak lagi,” kata legislator asal Tanjung itu.

Jamaluddin menegaskan, konstruksi menggunakan tiang ulin hanya akan bertahan sekitar tiga tahun, sehingga tidak efisien dan merugikan dalam jangka panjang. Karena itu ia kembali menekankan agar pemerintah daerah mengambil langkah berani dengan membangun ulang dermaga menggunakan tiang beton yang lebih kuat dan tahan lama.

“Cuma waktu itu kami minta dilakukan perubahan, jangan pakai tiang ulin, karena kalau pakai tiang ulin paling tiga tahun. Nah kalau itu dilakukan (menggunakan beton), saya setuju sekali karena itu menjadi daya tarik untuk masyarakat datang,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan dermaga Tanjung Jumlai yang layak dan aman akan meningkatkan kunjungan wisatawan. Ia mengingat kembali bagaimana antusiasme masyarakat ketika dermaga tersebut baru selesai dibangun.

“Waktu baru-barunya dermaga itu luar biasa orang-orang, terutama muda-mudi kaum milenial datang selfie, macam-macam. Selain itu malam untuk mancing,” katanya.

Jamaluddin menilai pemerintah harus berani berinvestasi pada fasilitas wisata, meskipun biaya pembangunannya besar. Menurutnya, sektor wisata selalu memberikan dampak positif karena pertumbuhan pengunjung tidak pernah berhenti.

“Makanya kita harap pemerintah ini harus berani melakukan. Karena wisata itu memang biayanya mahal, tetapi hasilnya paten. Artinya paten itu karena dia tidak mati, ada timbal baliknya. Orang ini kan terus bertambah tidak berkurang, mati sepuluh lahir seratus. Yang seratus ini mencari tempat terus berkembang,” pungkasnya. (rq/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *