DPRD PPU Desak Perluasan Jargas Rumah Tangga hingga Gang Sempit
Wakil Ketua DI DPRD PPU, Syahrudin M Noor
PENAJAM – Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), persoalan akses energi rumah tangga masih menjadi perhatian masyarakat Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Warga di sejumlah wilayah masih menghadapi antrean elpiji bersubsidi serta fluktuasi harga di tingkat pengecer. Kondisi tersebut mendorong DPRD PPU meminta pemerintah pusat dan Pertamina memperluas jaringan gas (jargas) rumah tangga hingga ke permukiman padat dan gang-gang sempit.
Wakil Ketua I DPRD PPU, Syahrudin M. Noor, mengatakan perluasan jargas menjadi kebutuhan penting seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan kawasan sekitar IKN. Menurut dia, cakupan jargas di PPU saat ini belum merata. Karena itu, pembangunan jaringan perlu diarahkan agar dapat menjangkau lebih banyak rumah warga, termasuk yang berada di kawasan permukiman. “Saat ini jargas kita masih belum merata. Ibaratnya, baru sebelah kanan jalan saja yang menikmati, sementara yang sebelah kiri masih menonton,” kata Syahrudin, Selasa (15/9/2026).
Syahrudin berharap masyarakat, khususnya warga yang berada di sepanjang jalan utama dan kawasan permukiman, dapat secara bertahap beralih menggunakan jargas. Ia mencontohkan Kota Balikpapan yang dinilai telah mengembangkan jaringan gas hingga menjangkau sejumlah gang dan permukiman padat. Menurut Syahrudin, pola pembangunan tersebut dapat menjadi salah satu acuan dalam memperluas jargas di PPU. Dengan jaringan yang lebih luas, masyarakat diharapkan memiliki akses terhadap sumber energi rumah tangga yang lebih praktis dan tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi elpiji.
Syahrudin mengatakan pembangunan jargas di PPU pada periode awal, sekitar 2018-2021, sempat mendapat sejumlah keluhan dari masyarakat. Keluhan tersebut antara lain berkaitan dengan kekhawatiran terhadap keamanan penggunaan gas serta kondisi jalan yang terdampak pekerjaan penggalian dan pemasangan jaringan pipa.
Namun, menurut dia, persepsi sebagian masyarakat mulai berubah setelah jargas digunakan dan manfaatnya dirasakan secara langsung. “Dulu memang banyak keluhan, ada rasa takut kebakaran atau jalan rusak. Tapi sekarang, setelah merasakan manfaatnya, masyarakat justru menagih kapan giliran rumah mereka dipasang,” ujarnya.
Saat ini, jaringan gas rumah tangga di PPU masih terkonsentrasi di sebagian wilayah Kecamatan Penajam dan Waru.
Berdasarkan data yang disampaikan Syahrudin, total jargas yang telah terpasang mencapai 9.365 sambungan rumah (SR). Jumlah tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk PPU dan perkembangan kawasan yang terdampak pembangunan IKN. Syahrudin berharap pembangunan IKN tidak hanya memberikan dampak pada pembangunan infrastruktur dan pusat pemerintahan, tetapi juga diikuti pemerataan akses energi bagi masyarakat di daerah penyangga. “Megaproyek IKN tidak hanya membawa kemajuan bagi pusat pemerintahan baru, tetapi juga menghadirkan keadilan dan kesejahteraan energi yang merata bagi seluruh masyarakat,” katanya.(adv/jr)